Naomi Sarah, Ibu yang merangkap jadi fotografer untuk tim Bina Taruna di Liga Soeratin Jakarta U-15

Ibu Yang Rela Jadi Videografer Demi Mendukung Cita-Cita Lapangan Hijau Anaknya

Posted on

Matahari Jakarta menyengat tanpa ampun di atas lapangan PSF, Pancoran, saat kompetisi Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026 bergulir. Suhu menyentuh angka yang membuat siapapun ingin berlindung di dalam ruangan ber-AC. Namun di sisi bangku penonton, seorang wanita berdiri dengan sabar di hampir sepanjang pertandingan di bawah naungan atap tribun yang hanya cukup melindungi kepala—tidak cukup untuk menghentikan keringat yang membasahi pelipisnya.

Namanya Sarah. Ia bukan pelatih, bukan ofisial, bukan jurnalis. Ia adalah ibu dari Lionel Andres Daniel Sarumaha, anak tunggal kesayangannya yang kini mengenakan nomor punggung 8 untuk SSB Bina Taruna. Di tangannya, sebuah ponsel dengan tripod teracak lurus ke arah lapangan. Jarinya tak henti menekan tombol rekam, meski keringat kadang menetes dari dagu dan cahaya matahari menyilaukan layar.

Dari kamera ponsel itu, Sarah merekam setiap gerakan Lionel. Saat putranya menggiring bola di atas rumput yang memantulkan panas, saat ia mengoper dengan napas tersengal, saat ia berlari mengejar mimpi di bawah terik yang menyayat—semua terekam jelas. Bukan sekadar dokumentasi. Setiap video akan diputar ulang di rumah, dievaluasi bersama, menjadi bahan diskusi hangat di meja makan. “Ini cara saya ikut mendampingi latihannya,” ujar Naomi sambil menyeka keringat yang tak henti mengalir.

Anak semata wayangnya itu bergabung dengan SSB Bina Taruna sejak kelas 4 SD—artinya sudah tujuh tahun berlalu. Tujuh tahun rutinitas yang menguras waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Latihan di sekolah tiga kali seminggu, Selasa hingga Kamis, ditambah program futsal wajib, serta jadwal tambahan di Lapangan Bea Cukai setiap Jumat yang mengharuskan Naomi merogoh kocek ekstra Rp20.000 untuk pelatih.

Dirinya tak pernah menghitung lelah. Anggaran bulanan Rp1 juta untuk Bina Taruna, Rp300 ribu di antaranya iuran rutin, ditambah suplemen harian sebesar Rp400 ribu untuk 400 butir—habis dalam sebulan. “Anak usia 15 tahun butuh asupan. Kami tidak mau ambil risiko,” katanya tegas, suaranya sedikit meninggi untuk mengalahkan teriakan penonton lain.

Lalu ada biaya pertandingan. Jika lokal, Rp60.000 per orang. Jika jauh, seperti saat mengikuti Turnamen Sentra Nasional di Jogja, Naomi harus menyiapkan hingga Rp500.000 untuk penginapan dan transportasi. Kadang naik kereta ekonomi, kadang bus. Tapi baginya, itu bukan pengeluaran. Itu investasi—investasi yang tak pernah ia catat di buku keuangan, melainkan di relung hati.

Di sela waktu istirahat, Sejenak ia menurunkan ponselnya, lalu lalu mengambil botol air mineral untuk mengatasi dahaga. Pandangannya tetap tertuju pada anaknya yang sedang minum di pinggir lapangan. Ia tersenyum kecil. Betapa jauh perjalanan yang sudah ditempuh bersama.

“Apa pun yang positif untuk anak, kami dukung,” ucapya lagi. Maka sejak dini, ia dan suami sudah menyiapkan rencana cadangan—jika Lionel tak berlanjut sebagai pesepak bola profesional, ia akan mengambil jalur pendidikan olahraga, menjadi guru atau tenaga pengajar yang tetap dekat dengan dunia yang ia cintai.

Babak kedua dimulai. Naomi kembali mengangkat ponselnya. Keringat mengalir deras, namun tangannya tetap mantap. Di layar ponsel yang mulai redup karena panas, Lionel kembali berlari. Dan Sarah tetap di sana—di bangku penonton yang panas, dengan kasih yang tak pernah padam, merekam setiap detik perjuangan anak semata wayangnya.

Sebab suatu hari nanti, ketika Lionel berdiri di panggung besar sebagai pesepak bola profesional—atau guru olahraga yang menginspirasi—ia ingin anaknya tahu: di setiap langkahnya, di bawah setiap terik matahari yang pernah menyengat, ada kasih ibu yang tak pernah berhenti merekam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *