Eks kapten timnas era 1970-an dan 1980-an Berti Tutuarima kembali berbicara tajam tentang gaya kepelatihan sepak bola usia muda Indonesia. Kritiknya tidak tertuju semata kepada pemain, melainkan juga kepada para pelatih yang dianggapnya gagal memahami esensi sepak bola modern dan perkembangan usia dini.
Dirinya tidak asal bicara dan telah melihat langsung berdasarkan fakta lapangan. Karena di usia yang sudah 69 tahun, dia masih rela berpanas-panas menjalankan tugas sebagai pemandu bakat di kompetisi Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026.
Kompetisi ini sendiri sudah akan memasuki akhir putaran pertama, dimana setiap tim telah bertanding sebanyak 6 kali. Jumlah yang dirasa cukup untuk seseorang yang kenyang pengalaman lapangan melihat secara kasar mata tentang tim-tim peserta dan pemain yang sedang masa pencarian bentuk permainan.
Dari apa yang dilihat, eks kapten timnas yang juga bek kiri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia ini menyoroti fenomena dominasi permainan individu di hampir semua tim. “Secara umum, rata-rata pemain masih dominan main sendiri, seperti main individu. Padahal sepak bola modern adalah tentang kerja sama. Mestinya main umpan-umpan pendek, cepat kirim bola ke depan, tidak ditahan-tahan,” ujarnya.
Padahal di usia U-15, yang merupakan fase transisi krusial dari sepak bola anak-anak menuju remaja, pemahaman taktik kolektif seharusnya sudah mulai tertanam kuat. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan kebalikannya. Ini juga disebabkan adanya fakta bahwa para pelatih tampaknya tak mampu mengoreksi kebiasaan buruk ini. “Ini juga tergantung kepada pelatih. Pelatih yang pintar akan bisa mengarahkan cara bermain anak asuhnya saat di lapangan,” ucapnya lagi.
Menurut Berti, akar masalah ada pada sisi yang lebih dalam, dimana sebagian besar pelatih di kompetisi ini bukanlah mantan pemain. Mereka tidak memiliki pengalaman bermain di level kompetitif yang tinggi, sehingga pemahaman mereka tentang nuansa pertandingan, transisi, dan pengambilan keputusan taktik sangat terbatas.
Mereka mengajarkan teori tanpa pernah merasakan tekanan dan dinamika yang sesungguhnya di atas lapangan hijau. Akibatnya, pemain dilatih dengan cara yang kaku dan tidak aplikatif, menghasilkan produk yang “gagal paham”.
Kritik Berti semakin tajam ketika ia menilai dampak dari kurangnya pemahaman taktik dan fisik ini. Ia melihat kegagalan adaptasi sebagai penyebab utama inkonsistensi performa tim. “Kualitas boleh bagus, tapi buat apa jika tidak konsisten? Ini balik lagi ke daya tahan fisik,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan adanya tim yang bermain di dua event secara bersamaan dan berpindah-pindah tempat, yang menurutnya sangat mempengaruhi penampilan pemain menjadi naik turun. Sayangnya, alih-alih menjadi ajang pembelajaran, situasi ini malah menjadi bumerang bagi proses talent scouting yang tidak bisa berjalan optimal karena ketidakstabilan performa yang ditampilkan.
Namun demikian, Berti masih melihat ada progres dan pertumbuhan diantara tim-tim peserta Liga Jakarta yang diikuti oleh 16 tim ini. Salah satunya adalah Maesa Pararaiders. Mereka yang awalnya tampil berantakan, secara perlahan menunjukkan progres signifikan. Kerja sama tim, pengertian antarpemain, dan kekompakan mereka meningkat pesat seiring berjalannya pertandingan.
Sebaliknya, ada juga tim yang tak kunjung menunjukkan perbaikan dan itu ada pada tim Real Jakarta. “Mereka tidak ada progres sama sekali di segala aspek, perorangan, tim, strategi, dan taktik permainan,” cetusnya. Ia mencontohkan kekalahan memalukan 0-5 dari Bina Mutiara, di mana Real Jakarta justru datang lebih dulu dan lebih siap, sementara lawan datang terlambat karena baru bermain di tempat lain. Menurutnya, ini adalah bukti telak bahwa tim tersebut sangat kurang di hampir semua aspek, terutama fisik. “Di pertandingan-pertandingan mendatang, mereka sebaiknya perbaiki fisik dulu sebelum bicara aspek teknis,” saran Berti.
Ini adalah sebuah kritik struktural. Berti tidak hanya menyalahkan pelatih, tetapi juga sistem pembinaan yang masih mengabaikan pentingnya pelatih bersertifikat dan berpengalaman. Atau tim-tim yang dikelola secara gotong royong oleh orang tua pemain. Di negara-negara sepak bola maju, pelatih usia muda diwajibkan memiliki lisensi kepelatihan khusus yang mengajarkan psikologi anak dan metodologi latihan modern.
Di sini, jabatan pelatih sering kali diisi oleh “relawan” atau orang tua yang memiliki minat, tanpa bekal kompetensi yang memadai. “Pelatih yang bukan mantan pemain pemahamannya tidak sampai ke sana,” sindir Berti, mengacu pada kegagalan menerapkan strategi dan taktik yang efektif.

Padahal kompetisi ini sangat bagus untuk pemain muda atau untuk mereka yang jam terbangnya masih sedikit. Mereka itu punya kesempatan belajar dan memetik pengalaman maupun memperbaiki cara permainan saat bertemu tim-tim berkualitas. Namun, potensi besar ini terancam sia-sia jika tidak didampingi pelatih yang mumpuni. Pemain hanya akan menjadi “pemain instan” yang mengandalkan bakat individu, tanpa fondasi taktik dan kerja sama tim yang kuat. Di era sepak bola modern yang serba cepat dan kolektif, pemain seperti ini akan dengan mudah “tumbang” saat berhadapan dengan lawan yang lebih terorganisir.
Berti berbicara tidak bermaksud menghina, melainkan cerminan keprihatinan seorang legenda yang ingin melihat sepak bola Indonesia bangkit. Dia telah melalui masa-masa kejayaan, di mana sepak bola Indonesia masih dihormati di Asia Tenggara. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan untuk mencapai level itu: disiplin taktik, fisik prima, dan yang terpenting, pelatih yang mampu menjadi “guru” sejati bagi anak-anak asuhnya.
Jika para pelatih U-15 Jakarta tidak segera introspeksi dan meningkatkan kapasitasnya, maka siklus kegagalan pembinaan pemain muda akan terus berulang. Generasi emas yang diidam-idamkan hanya akan tinggal angan-angan. Saatnya pelatih turun dari “menara gading” dan benar-benar belajar untuk mendidik, bukan hanya memerintah.


