Diklat ISA,

Filosofi ‘Progres di Atas Prestasi’: Tangan Dingin Coach Worgu Chiemela di Diklat ISA

Posted on

JAKARTA – Di tengah ketatnya persaingan sepakbola usia muda di Indonesia, Diklat ISA (Imran Soccer Academy) tampil menonjol dengan pendekatan yang unik.

Di bawah komando Coach Worgu Chiemela, akademi yang didirikan Zuchli Imran Putra ini tidak hanya berambisi mencetak juara, tetapi lebih fokus pada pembentukan karakter dan transformasi teknis pemain secara jangka panjang.

Memasuki tahun ketiganya bersama Diklat ISA, pelatih yang pernah menangani tim EPA Madura United U-18 dan Semen Padang U-18 ini membagikan rahasia suksesnya dalam membangun mental juara bagi para pemain muda di diklat yang berdiri megah di Kawasan Nagrak, Gunung Putri, Bogor, ini.

Rekam Jejak Juara: Bukan Sekadar Keberuntungan

Tangan dingin Coach Worgu membuahkan hasil sejak tahun pertamanya. Ia berhasil membawa Diklat ISA meraih gelar juara di Liga TopSkor U-18 dengan mayoritas pemain yang naik kelas dari kategori U-16. Kejayaan tersebut berlanjut pada 2023 dengan menyabet trofi Holiday Game di Pancoran Soccer Field (PSF) dan juara FOSSBI U-17.

Namun bagi Worgu, esensi melatih lebih dari sekadar koleksi piala. “Kebahagiaan terbesar saya adalah proses transformasi. Ada anak yang awalnya tidak punya visi bermain, lalu setelah dipoles, mereka paham cara bermain bola yang benar. Itu kemenangan dan kebahagiaan saya yang sesungguhnya,” ujarnya.

Asrama Diklat ISA di kawasan Gunung Putri, Bogor. Foto: Aba Mardjani

Pendekatan Humanis: Mental dan Adaptasi

Menjelang kompetisi Liga Jakarta U-17, Coach Worgu menekankan pentingnya aspek psikologis, terutama bagi pemain yang datang dari luar daerah. Baginya, keberanian pemain muda merantau demi sepakbola adalah modal besar yang harus dijaga dengan penguatan mental.

“Kami memberikan mereka keyakinan dan rasa percaya diri. Kami harus membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak hanya fisik tetapi terutama mental. Kami selalu mendekati dan memahami masalah setiap anak secara personal,” jelasnya.

Efisiensi Latihan dan Target Liga Jakarta U-17

Dalam hal teknis, Coach Worgu Chiemela menerapkan standar efisiensi yang ketat. Latihan rutin dilakukan tiga kali sepekan dengan durasi maksimal dua jam.

Coach Worgu Chiemela lakukan pendekatan humanis bagi para pemain muda di Diklat ISA. Foto: Aba Mardjani

“Satu setengah jam hingga dua jam itu maksimal. Kualitas dan intensitas lebih penting daripada durasi lama yang berisiko menurunkan fokus pemain,” tambahnya.

Menghadapi tantangan di Liga Jakarta U-17, Coach Worgu menegaskan bahwa target utamanya tetaplah perkembangan pemain (improvement). Ia tidak ingin anak asuhnya kehilangan fokus karena terlalu terobsesi pada gelar juara.

“Nomor satu bagi saya adalah melihat bagaimana anak-anak berkembang. Semua pemain harus mendapatkan kesempatan bermain. Kalau hanya bicara juara, nanti bisa hilang fokus. Yang terpenting adalah mereka memahami atmosfer kompetisi resmi yang berbeda dengan latihan.”

Mencetak Bintang untuk Liga 1

Filosofi Worgu telah terbukti efektif. Ia dengan bangga menyebutkan beberapa alumni Diklat ISA yang kini telah menembus level profesional di Liga 1 dan Liga 2. Salah satunya adalah Dani Ramadani yang kini memperkuat PSIS Semarang.

“Saya senang sekali melihat progres mereka. Anak yang awalnya merasa ‘saya tidak bisa’, sekarang sudah paham cara bermain di level tinggi. Itulah fondasi kami di Diklat ISA: menyiapkan pemain yang tangguh secara holistik untuk industri sepakbola profesional,” tandas pelatih yang dikenal sangat peduli pada progres pemain muda ini.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *