Tim Pemuda Jaya saat menang WO atas UMS dalam partai tunda Liga Jakarta. Foto: Prasetyo

Pemuda Jaya Kritik Ketidaksiapan UMS di Liga Jakarta U-17: “Jika Tidak Siap, Jangan Ikut Musim Depan”

Posted on

JAKARTA, Pelatih tim Pemuda Jaya, Bagus Tristyanovan, mengaku sangat kecewa atas absennya tim UMS dalam laga tunda Kompetisi Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2025, Minggu (2/11/2025), di Lapangan PSF Pancoran.

Laga tersebut merupakan kelanjutan pertandingan Rabu (29/10) yang terhenti akibat hujan deras, dengan Pemuda Jaya sudah unggul 1-0 sebelum pertandingan dihentikan.

UMS diketahui telah menerima pemberitahuan jadwal ulang, namun tidak hadir tanpa kabar pada hari dan jam pertandingan yang telah dijadwalkan panitia. Keputusan UMS untuk absen tersebut dinilai tidak profesional dan merugikan lawan.

“Ketidakhadiran ini merugikan kami. Kami rugi waktu, energi, dan pemain juga kecewa,” ujar Bagus. “Kami sudah mengatur porsi latihan khusus untuk pertandingan ini, tapi semua buyar hanya karena lawan tidak hadir.”

Menurut Bagus, ketidaksiapan seperti ini tidak hanya merugikan tim Pemuda Jaya, tetapi berdampak pada kualitas kompetisi serta kredibilitas penyelenggaraan Liga Jakarta sebagai ajang pembinaan sepak bola remaja ibu kota.

“Secara pribadi dan sebagai manajemen, kami sangat kecewa. Kalau memang tidak siap, sampaikan saja sebelumnya. Jangan membuat tim lain buang energi,” tegasnya.

Ketidakhadiran ini, lanjut Bagus adalah cermin persoalan mendasar dalam pengelolaan tim UMS, bukan sekadar persoalan teknis kehadiran pemain. Persoalan yang sejatinya juga ditemui di sejumlah tim lain peserta Liga Jakarta.

Lebih lanjut dirinya juga menyoroti fenomena sejumlah tim peserta Liga Jakarta yang mengikuti kompetisi tanpa memiliki program pembinaan yang benar-benar matang. “Ada tim-tim yang hanya demi gengsi ambil pemain sana-sini, comot dari mana saja. Ketika jadwal bentrok, pemain itu memilih tim asalnya, bukan tim yang ikut kompetisi,” jelas Bagus.

Situasi ini membuktikan bahwa sebagian manajemen tim hanya fokus mengejar hasil, bukan komitmen pembinaan jangka panjang. “Kalau pembinaan benar dilakukan, seburuk apapun kondisi, mereka tetap punya pemain sendiri untuk diturunkan. Mau kalah besar, itu bagian proses,” ujarnya.

“UMS bukan tim baru. Mereka berpengalaman bahkan di level nasional. Jadi tidak bisa dibilang ini proses belajar. Ketidakhadiran mereka sebuah kesalahan fatal,” tegasnya.

Bagus menilai bahwa Liga Jakarta U-17 memberikan ruang bagi perkembangan bakat-bakat muda, sehingga diperlukan keseriusan penuh dari setiap klub peserta. Ketidakdisiplinan dan absennya komitmen hanya akan merusak atmosfer pembinaan. “Jujur saja, kalau tidak siap jangan ikut. Tidak ada pemain, tidak ada program pembinaan, ya jangan paksakan. Ini liga pembinaan, bukan liga cari status,” ujar Bagus.

Pelatih yang juga eks kiper tim DKI Jakarta ini juga meminta panitia dan Asprov PSSI DKI untuk mengevaluasi klub-klub yang tidak menunjukkan kesiapan organisasi, agar kompetisi musim depan lebih berkualitas dan profesional. “Kompetisi ini untuk membentuk pemain muda. Kalau mentalitas dan manajemen seperti ini dibiarkan, pembinaan tidak akan berkembang,” tutupnya.

Sebagian tim lain di luar UMS yang saat ini berada di papan bawah klasemen Liga Jakarta adalah wujud dari fenomena yang dikatakan Bagus. Mayoritas dari mereka adalah tim-tim yang pernah WO atau datang dengan jumlah pemain yang tidak lengkap. UMS sendiri saat ini berada di peringkat 15 dari 18 kontestan liga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *