JAKARTA – Legenda sepakbola Indonesia, Anjas Asmara, 73 tahun, memberikan kritik pedas terhadap arah kebijakan PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir. Hal ini disampaikan Anjas saat menghadiri pembukaan Pra-Musim Liga Soeratin U15 di lapangan sintetis PSF, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (11/4) pagi.
Sosok yang dikenal sebagai pahlawan timnas di era 70-an ini sudah terlihat antusias di pinggir lapangan sejak pagi. Kehadirannya bukan tanpa alasan; ia ingin melihat langsung bibit-bibit muda bertarung dalam ajang Liga Jakarta U17 dan Liga Soeratin U15.
“Saya mau nonton ini anak-anak bermain,” ujar Anjas singkat namun penuh semangat saat menyapa awak media di PSF Pancoran.
Kritik Keras untuk PSSI
Dalam kesempatan tersebut, Anjas tidak ragu melontarkan kritik menohok kepada federasi. Ia menilai langkah PSSI yang saat ini sangat masif melakukan naturalisasi pemain merupakan upaya “potong kompas” yang mengabaikan esensi pembinaan usia dini.
“Apa yang dibuat bung Erwiyantoro dan kawan-kawan ini sangat bagus. Ini yang tidak pernah bisa dibuat oleh PSSI, bahkan sampai saat ini di era Erick Thohir sebagai Ketua Umum,” tegas Anjas.
Menurutnya, ketergantungan pada pemain naturalisasi adalah cermin dari ketidaksabaran federasi dalam membangun fondasi sepak bola nasional dari akar rumput.
Prestasi Tidak Bisa Instan
Anjas menekankan bahwa sejarah olahraga di belahan dunia manapun selalu membuktikan bahwa kejayaan hanya bisa diraih melalui proses panjang, bukan dengan cara-cara instan yang mengandalkan pemain luar.
“PSSI saat ini hanya bisa melakukan naturalisasi pemain, mau potong kompas. Padahal prestasi olahraga di manapun tidak bisa instan,” tambahnya lagi.
Kehadiran Anjas Asmara di turnamen garapan mantan jurnalis senior Joseph Erwiyantoro dan kawan-kawan ini seolah menjadi tamparan bagi pemangku kebijakan sepakbola nasional.
Anjas berharap kompetisi seperti Liga Jakarta U17 dan Liga Soeratin U15 terus konsisten bergulir demi menjaga marwah pembinaan bakat lokal yang selama ini dianggap terpinggirkan oleh euforia tim nasional beraliran naturalisasi.***


