JAKARTA – Saya ingin mengawali tulisan ini dengan salam hormat, karena Erick Thohir menjadi Ketua Umum PSSI dan Menteri Pemuda dan Olahraga tentu karena ada suatu alasan.
Melalui surat ini, saya ingin mengingatkan Erick Thohir selaku Ketum PSSI karena di situlah sebenarnya pembinaan olahraga dilakukan. Saya hendak mengingatkan langkah kurang tepat yang dilakukan ET selama memangku kekuasaan sebagai Ketum PSSI.
Satu saja, Pak. Soal bagaimana Anda merekrut pemain-pemain diaspora dengan melakukan naturalisasi, khususnya para pemain asal Belanda yang notabene nenek-moyang mereka pernah mengeruk sumber alam dan merusak sumber daya manusia Indonesia selama 300-an tahun.
Terus terang saya tidak tahu persis sudah berapa puluh pemain yang dinaturalisasi oleh PSSI. Yang pasti, jumlahnya mengkhawatirkan. Yang pertama mengkhawatirkan karena kehadiran mereka mau tak mau menyisihkan peluang pemain-pemain Indonesia yang punya impian jadi pemain nasional.

Yang kedua, para pemain naturalisasi itu tentu tidak datang ke negeri ini membawa nasionalisme tinggi hanya karena nenek-moyang mereka ada yang berasal dari Indonesia. Mereka datang bukan dengan heroisme tinggi ingin mengibarkan bendera Merah Putih setinggi-tingginya di kancah internasional.
Tapi, mereka datang tentu karena diminta dan mendapat bayaran tinggi. Berapa bayaran yang mereka terima dari Anda atau PSSI? Entahlah. Yang pasti, bukan sekadar uang transport dari negara asal dan penginapan atau transportasi dan makan selama berada di Indonesia plus uang saku. Jumlahnya pasti miliaran. Persisnya hanya Anda dan orang-orang dalam lingkar terdekat Anda yang tahu.
Apa target ET dengan mengimpor pemain-pemain naturalisasi itu?
Saya melihat Anda sama saja seperti umumnya pemimpin negeri ini. Anda ingin tercatat dalam sejarah sebagai orang yang berhasil di era Anda saja. Sebagai Ketua Umum PSSI, Anda ingin dikenal sebagai orang yang bisa meloloskan timnas Indonesia ke Piala Dunia. Apapun caranya?
Apakah Anda berhasil? Jawablah sendiri.
Sebagai salah tokoh muda di masa kepemipinan era kini, saya sebenarnya berharap Anda menggantungkan sejarah Anda sebagai Ketum PSSI yang bisa menggelar kompetisi di semua level usia muda. Kompetisi dalam pengertian sebenarnya. Karena pada dasarnya, kompetisi adalah ruhnya pembinaan.

Mohon maaf, saya ingin mengambil contoh apa yang dilakukan Yoseph Erwiyantoro, wartawan olahraga yang pasti Anda kenal karena sepertinya berseberangan dengan Anda.
Toro adalah wartawan olahraga, khususnya sepakbola, yang banyak mengkritisi kebijakan penting Anda bahkan dengan kata-kata yang seringkali vulgar.
Apakah Toro hanya ngomong? Tidak. Sebab, sejak 19 April 2025, atau persis di hari kelahiran PSSI, dia menggelar kompetisi usia U17 berlabel Liga Jakarta U17 Piala Gubernur 2025. Kompetisi dalam pengertian dan substansi sebenarnya.
Kompetisi ini digelar atas kegelisahan Toro yang kemudian menggandeng Taufik Jursal Effendi, melihat PSSI tak kunjung bisa menyelenggarakan kompetisi usia muda kecuali Piala Soeratin yang digelar setahun sekali dalam durasi singkat. Di pertemuan nasional, setiap tim hanya bermain 2 hingga 5 kali.
Meskipun digelar mulai dari tingkat daerah, Piala Soeratin sangat jauh dari efektif untuk mendapatkan pemain-pemain bertalenta dari daerah. Karena itu, PSSI pun kesulitan mendapatkan pemain bertalenta tinggi ketika membentuk tim nasional U17 yang tampil di Piala Dunia U17.
Kompetisi ini, tentu juga, bisa berjalan dengan baik berkat dukungan I Gede Widiade, pengusaha dan pemilik lapangan sepakbola Pancoran Soccer Field.
Monumen Kompetisi Level Usia
Karena itu, suka atau tidak suka, apa yang dilakukan Erwiyantoro dan kawan-kawan dengan menggelar Kompetisi Liga Jakarta U17 Piala Gubernur 2025, layak disebut monumen.
Ya, ini sebuah monumen yang dibangun untuk mendapatkan pemain berbakat yang mungkin sebagian besar tidak memiliki koneksi untuk mendapatkan tempat di tim nasional U17.
Di sini mereka secara jujur menampilkan kemampuan mereka, daya tahan mereka, daya saing mereka, mental mereka, dengan harapan kelak bisa menjadi pemain nasional, yang sayangnya, tak ada satu pun pengurus PSSI, termasuk dari Asprov PSSI DKI Jakarta, yang berani nongol untuk menyaksikan anak-anak bangsa ini berkompetisi.
Masih beruntung Ratu Tisha, salah satu pengurus teras PSSI, mau menyempatkan diri ‘mampir’ untuk memberikan dukungan moral kepada panitia penyelengara kompetisi di Pancoran Soccer Field, Pancoran, Jakarta Selatan. Lumayanlah.
Kompetisi ini akan tercatat dalam sejarah sebagai kompetisi pertama yang digelar di Indonesia, khususnya untuk level U17. Dia akan jadi monumen bersejarah. Hingga kapan pun orang akan mengingat nama Erwiyantoro [dan kawan-kawan] sebagai figur pertama yang menggelar kompetisi seperti ini.

Erwiyantoro bukan pengusaha yang banyak duit untuk membiayai kompetisi berdurasi panjang di mana digelar lebih dari 200 pertandingan sejak 19 April hingga 12 November.
Toro dan kawan-kawan pontang-panting mencari dana lewat sponsor, lewat teman-teman baiknya, termasik Herty Purba, Perempuan hebat asal Batak dari Avatara Lintas Media yang mau merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk melakukan siaran streaming setiap Sabtu sejak April 2025 melalui channel YouTube Liga Muda Indonesia.
Menurut Toro, dia harus mengeluarkan biaya Rp12 juta hingga Rp14 juta per hari pertandingan. Sementara Herty menghabiskan dana antara Rp15 juta hingga Rp25 juta setiap kali melakukan siaran langsung atau streaming.
Jika seorang Toro bisa, seharusnya PSSI lebih dari sekadar bisa. Uang miliaran rupiah yang digelontorkan PSSI untuk melakukan naturalisasi pemain, jauh lebih elok jika dialihkan untuk menggelar kompetisi mulai level U13 hingga U17.
Jika itu Anda lakukan, Pak Erick Thohir, maka nama Anda akan terpatri sebagai tokoh PSSI yang menggerakkan roda kompetisi level usia dini. Anda mungkin takkan dikenal sebagai tokoh PSSI yang meloloskan timnas Indonesia ke Piala Dunia, yang ternyata juga gagal, tapi siapa pun para remaja akan berterima kasih kepada Anda karena bisa menggerakkan roda kompetisi di semua level.
Nama Anda akan abadi, akan harum bahkan setelah Anda tak lagi jadi Ketua Umum PSSI.
Terlepas dari apapun agenda Anda dengan melakukan naturalisasi pemain begitu massif, menggelar kompetisi seperti yang dilakukan Erwiyantoro dan kawan-kawan jauh lebih mulia bila Anda mau.
Tahun depan, Erwiyantoro dan kawan-kawan akan kembali menggelar Liga Jakarta U17 Piala Gubernur plus Liga Soeratin U15. Jika Anda, sebagai Menpora dan Ketum PSSI masih diam saja, bahkan tak mau membereskan karut marut Asprov PSSI DKI Jakarta yang tak punya pengurus definitive sejak Februari 2022, Anda takkan membangun monumen apapun kecuali menghabiskan uang miliaran untuk suatu kesia-siaan belaka.***


