
JAKARTA, Soliditas pemain PSF U-17 di Liga Jakarta U-17 2026 dinilai mengalami kerusakan karena kegemaran manajemen tim yang gemar mengganti pelatih. Hobi mengganti pelatih di level sepak bola pembinaan ini, turut menghambat pertumbuhan kemampuan pemain. Kritik ini disampaikan Carlos Megares, orang tua salah seorang pemain PSF U-17, yang juga mantan pemain Real Betis pada 1982-1985.
Pokok masalah dari semnua ini adalah kebijakan manajemen yang membagi dua kelompok usia pemain. Untuk pemain kelahiran 2009, mereka digabungkan di tim Batavia FC. Sedangkan yang lahir tahun 2010 ke atas dimasukkan ke dalam tim PSF. Baik PSF dan Batavia bernaung dalam satu manajemen PSF Grup yang dipimpin direktur teknik, Ibnu Grahan.
Dalam pandangan Megares, kebijakan ini membuat soliditas tim hancur. Kehancuran terjadi lantaran jumlah pemain PSF yang tidak cukup dan mencari tambahan itu dari dari luar. “Ini membuat soliditas tim sama sekali tidak ada,” ujarnya saat ditemui di sela-sela pertandingan Liga Jakarta U-17 pada Sabtu (10/10).
Dampaknya, PSF bermain tanpa pola dan cenderung kacau. Hasilnya terlihat langsung di papan klasemen. Hingga pekan kesembilan, posisi mereka pada papan klasemen grup Merah, beraada di nomor dua terbawah dengan poin total tujuh, hasil dari dua kali menang, sekali seri dan enam kali kalah.
Persoalan diperparah dengan kebijakan manajemen yang berganti pelatih hingga empat kali sejak persiapan akhir 2025. Tim sempat dilatih Yusron Yazid, lalu digantikan Supriono pada pekan kedua. Ely Eiboy sempat didaftarkan di putaran dua namun hanya bertahan sekali, sebelum akhirnya Joko Kuspito ditunjuk. “Ganti pelatih pasti ganti gaya kepelatihan. Ini membingungkan pemain yang masih dalam masa pembentukan,” tegas Carlos.
Dalam perspektif pembinaan usia muda, kritik Carlos menyentuh titik krusial. Pelatih adalah role model dan figur yang memberikan orientasi permainan. Ketika figur itu terus berganti, pemain kehilangan referensi taktis dan psikologis. Mereka tidak sempat memahami satu konsep permainan secara utuh sebelum dipaksa beradaptasi dengan konsep baru. Akibatnya, perkembangan pemain terhambat atau bahkan berhenti.
Carlos juga menyoroti sosok Joko Kuspito, pelatih PSF U-17 yang dinilainya kurang ekspresif. “Orangnya pemalu, kurang ekspresif, sehingga anak asuhnya cenderung main lepas tanpa pola.” tandasnya.
Liga Jakarta U-17 sendiri merupakan kompetisi pembinaan yang digagas untuk melahirkan pemain berkualitas melalui jam terbang kompetitif, bukan sekadar turnamen. Ketua panitia pelaksana menyebut pemain berkualitas lahir dari kompetisi yang memenuhi standar FIFA dengan minimal 30 pertandingan per tahun. Namun jika melihat kebijakan PSF tersebut, harapan tersebut mungkin sulit untuk terwujud.


