
Secara usia , sosok ini masuk berstatus ABG, atau dalam istilah sekarang, kelompok usia Gen Z. Namun dalam umur yang masih 15 tahun, dirinya berani memutuskan hijrah dari Rantau Parapat, Sumatera Utara untuk memilih pindah demi mengasah kemampuan sepak bolanya di ibu kota. Di umur yang bagi sebagian orang tua masih berat untuk dilepas, dia seperti melampau bayangan banyak anak seusianya, menabuh genderang perjuangan di kompetisi bergengsi untuk usianya: Liga Soeratin U-15 Jakarta.
M. Aditya Lesmana bukanlah sekadar nama baru di daftar pemain Bina Taruna. Ia adalah anak Medan sejati, lahir pada 14 Februari 2011, di Kisaran yang merantau ke Jakarta dengan tekad membaja. Sementara orang tuanya masih menetap di Rantau Parapat, Aditya memilih tinggal di mess klub dan melanjutkan sekolah di SMA Villa Mas, kelas 1. Sebuah keputusan besar yang menunjukkan betapa seriusnya ia menekuni dua pilar kehidupannya: pendidikan dan sepak bola.
Penampilan perdananya bersama Bina Taruna di ajang Liga Soeratin U-15 Grup Barat pekan lalu langsung menarik perhatian. Tidak seperti pemain baru lain yang butuh waktu beradaptasi, Aditya menorehkan namanya di papan skor pada debutnya, menjadi bagian dari kemenangan telak 9-0 timnya atas Toyo Haryono FC. Itu adalah pernyataan, bahwa ia datang bukan untuk menjadi penonton, melainkan aktor utama di atas lapangan.
Namun, jalan Aditya tidak semulus skor 9-0. Sebelum hijrah ke Jakarta, ia mengasah kemampuannya bersama tim Bintara Muda di Medan dan mengikuti berbagai kejuaraan, termasuk Liga Top Skor, di mana ia berhasil membawa timnya menjadi finalis wilayah Sumatera Utara.
Pengalaman itu memberinya modal dasar, tetapi ia merasa masih ada yang kurang. “Di Medan, gaya bermain masih dominan fisik dan kekuatan. Di sini sudah lebih jauh teknis. Jadi ketika main di sini rasanya ada yang berbeda, ada rasa yang berbeda ya ketika bertanding sama tim-tim di sini,” ujarnya dengan mata berbinar.
Keputusannya merantau bukan tanpa alasan. Ia mengikuti seleksi masuk klub Garuda Yaksa di Bekasi, meskipun hasilnya belum diketahui. Namun, ketika ada ajakan untuk bergabung dengan Bina Taruna, ia tidak ragu. “Mau gabung di sini untuk cari pengalaman lebih banyak, sekaligus ingin membawa Bina Taruna juara di kompetisi ini,” katanya mantap. Baginya, bermain di Jakarta adalah langkah maju, sebuah kesempatan untuk belajar sepak bola yang lebih modern dan taktis.
Tak cuma tentang bola, dirinya tetap ingin menjaga keseimbangan antara pendidikan dan olahraga. Ia bersyukur orang tuanya memberikan dukungan penuh dari Medan. Cita-citanya pun jelas: sekolah dan sepak bola bisa berjalan seiring. “Tidak ingin memilih salah satu. Kalau bisa lanjut setelah tamat sekolah nanti saya ingin masuk tentara,” ungkapnya dengan nada optimis.
Kisah Aditya adalah wujud nyata tentang keberanian memulai dari nol di tanah orang. Ia datang bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk mengukir jejak. Gol perdananya di debut adalah percikan kecil yang semoga menjadi api besar bagi perjalanannya. Dan di atas lapangan, anak Medan itu telah menunjukkan bahwa sepak bola, seperti juga hidup, adalah tentang keberanian mengambil keputusan cepat dan akurat.


