JAKARTA, Legenda sepak bola nasional Patar Tambunan menyebut di level sepak bola pembinaan, yang harus jadi perhatian utama adalah proses bermain, organisasi tim dan bagaimana anak-anak memiliki serta membentuk pemahaman terhadap taktik permainan.
Kemenangan serta hasil akhir tidak jadi tujuan utama, tegas sosok yang saat ini bertugas sebagai talent scouting Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026.
Saat mengamati pertandingan Bina Mutiara melawan Tunas Indonesia di Lapangan PSF Pancoran, Minggu (12/7), Patar melihat perkembangan yang cukup menggembirakan dari permainan Bina Mutiara. Menurutnya, tim tersebut sudah menunjukkan fondasi permainan yang mulai matang, terutama dalam membangun serangan dan melakukan transisi.
Ia menilai organisasi permainan Bina Mutiara sudah tersusun dengan rapi. Aliran bola dari satu pemain ke pemain lain berlangsung cepat sehingga tim mampu menguasai ritme pertandingan. Ketika kehilangan bola, para pemain juga tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali ke posisi bertahan.
“Organisasi permainan mereka sudah bagus. Serangan dibangun dengan rapi dan transisi dari menyerang ke bertahan berjalan cukup cepat,” ujar Patar.
Salah satu aspek yang paling menarik perhatian Patar adalah pergerakan tiga pemain depan Bina Mutiara, yakni Muhammad Rajab Bintang Keanu, Gilang Faeyza Alfiansyah, dan Kayza Juliawan Putra. Ketiganya tidak terpaku pada satu posisi, tetapi terus bertukar peran sepanjang pertandingan.
Pergerakan yang dinamis tersebut membuat lini pertahanan lawan kesulitan menentukan penjagaan. Situasi itu sekaligus menunjukkan bahwa para pemain mulai memahami konsep permainan kolektif, bukan sekadar mengandalkan kemampuan individu.
Dominasi Bina Mutiara juga tercermin dari penguasaan bola yang diperkirakan mencapai 60 persen berbanding 40 persen milik Tunas Indonesia. Bagi Patar, angka tersebut menjadi indikator bahwa para pemain sudah memiliki chemistry yang baik, sesuatu yang umumnya terbentuk melalui latihan yang rutin dan berkesinambungan.
Meski demikian, Patar mengingatkan bahwa pembinaan pemain muda tidak berhenti ketika sebuah tim mampu mendominasi pertandingan. Konsentrasi tetap harus dijaga hingga peluit akhir berbunyi karena pemain usia muda masih mudah kehilangan fokus ketika merasa sudah berada di atas angin.
Pandangan itu sejalan dengan evaluasi pelatih Bina Mutiara, Abdul Gafur. Menurutnya, anak-anak asuhnya sempat terlena setelah unggul dua gol sehingga memberi kesempatan lawan memperkecil ketertinggalan. Kondisi tersebut menjadi catatan penting yang harus diperbaiki dalam proses latihan berikutnya, terlebih tim juga tampil tanpa lima pemain utama sehingga harus melakukan sejumlah penyesuaian strategi.
Sementara itu, pelatih Tunas Indonesia, Harry Abrian, mengakui kualitas permainan Bina Mutiara berada di atas timnya. Ia sengaja menyimpan beberapa pemain pelapis pada awal pertandingan agar tenaga pemain inti tetap terjaga hingga babak kedua. Meski harus menelan kekalahan pertama musim ini, Harry tetap mengapresiasi penampilan anak asuhnya yang mampu menjalankan strategi sesuai rencana.
Dalam pertandingan tersebut, Bina Mutiara meraih kemenangan 2-1 melalui gol cepat Gilang Faeyza Alfiansyah pada menit pertama dan Habib Al Hasan pada menit ke-11. Tunas Indonesia memperkecil ketertinggalan lewat Zhaky Mubarok Zulkifli pada menit ke-32.


