Pelatih PSF Supriono bersama anak asuhnya usai salah satu laga Liga Jakarta U-17 Foto: Prasetyo

Supriono dan Realitas Sepak Bola Usia Dini: Antara Target, Komitmen, dan Mimpi yang Tertunda

Posted on

JAKARTA,  Di Lapangan PSF Pancoran yang menjadi saksi lahirnya banyak talenta muda, seorang pria berwajah tenang namun sarat pengalaman berdiri di pinggir lapangan, memperhatikan anak-anak asuhnya berlatih. Ia adalah Supriono, mantan pemain Timnas Indonesia jebolan program legendaris Primavera Italia di era 1990-an — sebuah program yang kala itu menjadi simbol harapan pembinaan sepak bola nasional. Kini, alih-alih bermain di lapangan hijau Eropa, ia mengabdikan diri sebagai pelatih muda di PSF Academy, salah satu kontestan Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur DKI 2025.

Supriono datang ke PSF bukan dengan tangan kosong. Ia datang membawa pengalaman panjang, ilmu kepelatihan modern, dan keyakinan bahwa pembinaan usia dini bukan sekadar soal menang atau kalah. Namun, di lapangan nyata, idealisme kadang harus berhadapan dengan kenyataan pahit: keterbatasan pemain, minimnya disiplin, dan target tinggi yang tak sejalan dengan kondisi tim.

Antara Target dan Realitas

Ketika Supriono diangkat menggantikan Agung Nopitra di pertengahan musim, manajemen PSF memberinya target ambisius — finis di posisi tiga besar. Hasil akhirnya? PSF menutup musim di posisi lima klasemen, setelah laga terakhir melawan Bekasi FC berakhir WO. Di atas kertas, target itu tak tercapai. Namun bagi Supriono, perjalanannya bukan tentang angka, melainkan tentang proses pembentukan karakter dan kemampuan pemain muda.

“Tujuan utama PSF bukan cuma trofi. Akademi ini ingin mengembangkan potensi pemain agar siap naik ke jenjang profesional. Tapi karena ini akademi berbayar, kemampuan pemain sangat variatif. Di situ tugas saya: memperkuat pondasi teknis mereka — dari first touch, passing, hingga pemahaman taktik,” ujarnya tenang.

Bagi Supriono, pembinaan tak bisa diukur dengan peringkat semata. Ia tahu benar, bahwa kerja membentuk pemain muda adalah kerja panjang, seperti menanam benih di tanah gersang — perlu kesabaran, bukan tekanan.

Pelatih yang Jungkir Balik

Supriono tidak mencari alasan, tapi juga tak menutup mata terhadap kenyataan. Para pemain PSF bukan anak-anak asrama. Mereka tinggal di rumah masing-masing, di bawah pengawasan orang tua. Latihan tiga kali seminggu — Senin, Rabu, Jumat — sering hanya dihadiri separuh dari total pemain. Sebagian bolos karena sekolah, sebagian karena “alasan klasik”: lelah, terlambat, atau sekadar malas.

“Kadang yang datang latihan cuma sembilan orang. Yang benar-benar disiplin mungkin cuma enam. Sisanya baru muncul di hari pertandingan. Ini yang bikin sistem permainan tak berjalan. Bagaimana kolektivitas bisa terbentuk kalau fondasinya bolong?” keluhnya.

Bandingkan dengan Bina Mutiara, tim juara Liga Jakarta U-17. Semua pemainnya diasramakan. Latihan teratur, disiplin terjaga, performa stabil. Supriono tidak iri, tapi realistis. Ia tahu, tanpa sistem seperti itu, mustahil mencapai level yang sama.

“Kalau PSF punya sistem asrama seperti Bina Mutiara, saya yakin target tiga besar bukan mustahil. Tapi dengan kondisi seperti ini, yang bisa saya lakukan adalah menjaga agar anak-anak tetap belajar dan berkembang,” katanya.

Filosofi Seorang Pembina

Meski hasil tak sesuai harapan, Supriono tak menghindar dari tanggung jawab. Ia justru menegaskan pentingnya laporan evaluatif kepada manajemen — sebuah bentuk profesionalisme yang jarang dimiliki pelatih di level akademi.

“Saya tetap beri laporan pertanggungjawaban. Dari sana, saya rekomendasikan pemain yang layak ke klub-klub Liga 3 atau Liga 4. Karena sejatinya, ini semua soal youth development, bukan sekadar kompetisi,” tegasnya.

Baginya, PSF adalah ruang pembelajaran — baik bagi pemain, pelatih, maupun manajemen. Ia tetap bertahan bukan karena uang, tapi karena keyakinan bahwa di balik segala keterbatasan, masih ada idealisme yang bisa diselamatkan.

“Owner ingin saya melatih pemain dari nol, yang bahkan belum bisa menendang bola, sampai akhirnya punya kemampuan bermain. Itu luar biasa. Tapi di lapangan, banyak dinamika. Banyak kepala, banyak masukan. Kadang visi bergeser. Tapi saya tetap pegang komitmen awal: pembinaan,” ujarnya, dengan nada pasrah tapi tegas.

Dari Primavera ke Pancoran

Sebagai mantan pemain program Primavera, Supriono tahu persis arti pembinaan sejati. Ia pernah merasakan sistem profesional di Italia, dan kini mencoba menanamkan filosofi itu di tanah air — meski di bawah bayang-bayang target jangka pendek dan minimnya disiplin pemain muda.

“Enggak ada pemain yang bodoh,” katanya sambil tersenyum. “Yang ada, pelatih yang menyerah. Saya tak mau jadi pelatih seperti itu.”

Dan di Lapangan PSF yang kerap becek selepas hujan, di antara teriakan anak-anak muda yang mengejar mimpi, Supriono tetap berdiri — bukan sekadar pelatih, tapi penjaga api kecil pembinaan sepak bola Indonesia.

1 thoughts on “Supriono dan Realitas Sepak Bola Usia Dini: Antara Target, Komitmen, dan Mimpi yang Tertunda

Tinggalkan Balasan ke BOSCUAN303 Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *