JAKARTA, Mantan penggawa Timnas Indonesia peraih medali emas SEA Games 1991, Maman Suryaman, tengah menajamkan pandangan demi mendapat calon pemai terbaik saat bertugas sebagai pemandu bakat di kompetisi Liga Jakarta U-17 2026. Memasuki pekan kelima, ia telah mengantongi 29 nama calon pemain terbaik. Namun, daftar itu disebutnya masih sangat dinamis—bisa bertambah, bisa pula dicoret sebelum pencarian resmi ditutup.
Berbeda dengan seleksi pada umumnya, Maman menegaskan bahwa dirinya tidak terpaku pada hasil akhir tim. “Saya memilih lebih banyak ke individu pemainnya, dibandingkan dia bisa menyetel sama tim. Bukan juaranya,” ujar Mama, di Jakarta, Senin (10/8).
Baginya, seorang pemain istimewa harus lolos dalam empat tingkatan kriteria yang ia sebut sebagai “bintang”: fisik, teknik, taktik, dan mentalitas.
Penilaian dimulai dari aspek fisik, di mana ia mengamati ketahanan pemain selama dua babak serta kemampuan naik-turun, terutama untuk posisi winger dan wingback modern. Dari fisik, ia melangkah ke teknik dasar seperti akurasi passing, dribbling, dan shooting. Hanya dengan pengamatan selama lima menit, seorang pemain bisa mulai masuk radar jika menunjukkan “basic” yang solid dan permainan yang efisien tanpa terlalu lama menguasai bola.
Kriteria ketiga adalah pemahaman taktik. Maman mencontohkan bagaimana ia menguji kesesuaian pemain dengan formasi 4-3-3. “Saat menyerang dia harus push ke atas, saat bertahan dia harus turun. Transisinya gimana?” tanyanya, menekankan bahwa kemampuan beradaptasi dengan skema tim menjadi pembeda utama. Puncaknya adalah mentalitas. “Daya juang, tenang hati, fighting,” sebutnya. Di era sepak bola yang kerap “setengah berkelahi”, ketahanan mental dalam duel satu lawan satu menjadi nilai jual tersendiri.
Maman yang berbagi tugas dengan eks skuad timas lain Tyas Tano Taufik ini mengakui bahwa kompetisi yang masih panjang membuat proses ini tidak bisa terburu-buru. Ia memberikan sistem bintang, di mana bintang tiga menandakan pemain sudah layak masuk dalam skema tim idamannya. Namun, ia tetap membuka ruang untuk evaluasi, terutama karena faktor cuaca dan kualitas latihan yang berbeda di tiap klub.
Terkait komposisi akhir, Maman memperkirakan akan ada 25 hingga 30 pemain yang dipilih, dengan rincian minimal dua pemain per posisi, ditambah empat penjaga gawang. Menariknya, ia secara pribadi mendorong adanya representasi dari tim yang gagal melaju ke putaran kedua. “Walaupun gagal, harus ada yang terwakili. Tujuannya untuk mengembangkan dia dan memberi motivasi ke klub-klub,” ujarnya. Meski prioritas tetap pada pemain dari tim yang lolos, Maman ingin memastikan bahwa bakat-bakat terbaik tidak hilang hanya karena nasib timnya tersisih di awal.
Sebagai langkah akhir, ia berharap tim pilihan ini dapat menjalani uji coba dan berujung pada ajang “perang bintang” yang lebih selektif, sebagai batu loncatan menuju level elite pro.


