Tambal Sulam 750 Pemain dan Cermin Manajemen Seadanya Tim Kontestan Liga Jakarta U 17

Posted on

Data tidak pernah berbohong. Dalam gelaran Liga Jakarta U-17 2025, statistik resmi panitia menyajikan fenomena luar biasa: sebanyak 750 nama pemain telah didaftarkan oleh 18 tim peserta sejak kompetisi bergulir pada 2 Mei 2025.

Angka yang fantastis ini, jika dirunut, bukanlah indikator kekayaan talenta, melainkan sebuah sinyal alarm kegagalan manajemen sebagian besar tim.

Awalnya, setiap tim diizinkan mendaftarkan maksimal 25 pemain. Namun, kebijakan yang membuka opsi pergantian dan penambahan pemain secara terus-menerus—terutama setelah sejumlah tim mengeluh kekurangan pemain—menciptakan budaya “tambal sulam” yang akut. Hasilnya adalah sebuah liga yang lebih menyerupai pasar pemain berpindah-pindah, alih-alih sebuah kompetisi yang membangun fondasi tim yang solid.

Data menunjukkan Bekasi FC ada di puncak dengan mendaftarkan 70 pemain berbeda, diikuti Putra Betawi (68) dan Bina Mutiara (51). Di sisi lain, Batavia FC menjadi tim dengan pertukaran paling sedikit (30).

Namun, korelasi antara banyaknya pergantian pemain dan peningkatan performa ternyata sangat lemah, bahkan cenderung negatif. Ini bisa dilihat dari kegagalan rotas massal oleh Bekasi FC (70 pemain) dan Putra Betawi (68 pemain), dimana mereka kini justru terpuruk di papan bawah klasemen.

Fakta tersebut adalah bukti nyata bahwa menambal masalah dengan pemain baru tanpa strategi yang jelas hanya menghasilkan ketidakstabilan. Kohesi tim, pemahaman taktik, dan chemistry pemain menjadi korban utama dari model perekrutan “panic-buying” ini.

Sebaliknya, Bina Mutiara, meski juga melakukan cukup banyak pergantian (51), mampu mempertahankan stabilitas dan kini bercokol di puncak klasemen. Hal ini mengindikasikan bahwa pergantian yang mereka lakukan mungkin lebih terencana, selektif, dan ditujukan untuk menyempurnakan tim yang sudah memiliki fondasi kokoh, bukan membongkar pasang secara total.

Nasib Pemuda Jaya (33 pemain) yang saat ini berada di peringkat 7 setelah sempat duduk di posisi teratas, dan Tunas Betawi (33 pemain) yang relatif stabil di 10 besar, menunjukkan bahwa jumlah pergantian bukan satu-satunya faktor. Masalahnya terletak pada kualitas keputusan manajerial dalam memilih pemain pengganti dan mengintegrasikannya ke dalam sistem tim.

Akar masalah dari fenomena ini adalah kegagalan manajemen dalam perencanaan jangka panjang. Sebuah tim seharusnya dibangun berdasarkan proses identifikasi, pembinaan, dan pengembangan pemain yang berkelanjutan. Kenyataan di lapangan justru menunjukkan adanya rekrutmen reaktif, bukan proaktif. Banyak tim tidak memiliki basis pemain yang cukup dan cadangan yang matang sejak awal. Mereka seperti “membeli di warung” saat laga sudah berjalan, berebut pemain yang tersisa tanpa proses skouting yang mendalam.

Ini adalah dampak dari  keharusan adanya proses pembinaan berjangka panjang yang berjalan maksimal di sebagian besar kkub  Belum lagi mentalitas “Quick Fix” dimana manajemen terjebak dalam mentalitas instan bahwa mengganti pemain adalah solusi utama dari setiap kekalahan dan kekosongan posisi. Mereka gagal menganalisis masalah taktis, kedisiplinan, atau kualitas pelatihan, dan lebih memilih untuk “menyalahkan” komposisi pemain.

Data diatas memberi kesempatan untuk perbaikan ke masa depan. Ini yang harus dimulai dengan merubah paradigma seluruh pemangku kepentingan.

 

Bagi Manajemen Tim,  perlu membangun Akademi dan skuad yang kokoh. Mereka harus fokus pada pembinaan pemain dari usia dini dalam akademi sendiri, alih-alih mengandalkan rekrutmen dadakan.

Mereka harus menentukan filosofi tim dengan identitas dan gaya permainan yang jelas. Rekrut pemain yang sesuai dengan filosofi ini, bukan sekadar yang secara teknis mumpuni.

Terakhir, beri peran dan kepercayaan penuh kepada pelatih. Peran yang ditujukan untuk mendapat kebebasan membangun tim dalam satu musim, dengan intervensi minimal dari manajemen dalam hal rekrutmen reaktif.

Data 750 pemain dalam satu liga U-17 adalah sebuah paradoks. Di balik angka yang seolah menunjukkan dinamika, tersimpan cerita tentang krisis perencanaan dan manajemen yang akut. Liga Jakarta U-17 2025 harus menjadi pelajaran berharga: masa depan sepak bola Indonesia tidak akan pernah cerah jika fondasinya dibangun dengan budaya “tambal sulam”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *