JAKARTA – Di tengah euforia Timnas Indonesia yang sedang naik daun karena kehadiran puluhan pemain diaspora, sebuah peringatan keras muncul dari akar rumput.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jakarta bersama Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) secara tegas menyuarakan urgensi pembinaan usia dini yang dinilai masih minim perhatian dari federasi.
Stop Cara Instan, Fokus ke Akar Rumput
Kritik tajam diarahkan kepada PSSI yang dianggap masih terlalu fokus pada level senior dan prestasi instan, namun abai terhadap kompetisi berjenjang di level bawah.
“Kita jangan hanya mementingkan level atas atau usaha yang sifatnya instan. Padahal, talenta muda kita bertebaran di seluruh penjuru tanah air,” ungkap Kesit B. Handoyo, Ketua PWDKI (Persatuan Wartawan DKI Jakarta).
Kesit menekankan bahwa pemain berkualitas hanya bisa lahir dari proses panjang, mulai dari jenjang muda hingga remaja, sebelum akhirnya melangkah ke level senior.
Liga Jakarta 2026 dan Liga Soeratin U15, Trigger Kebangkitan Talenta Lokal
Jakarta sendiri, melalui radiobola koaidi menggelar Liga Jakarta U17 2026 dan Liga Soeratin U15 mulai pekan April di Lapangan Sentetis Pancoran Soccer Field, Jakarta. Pada tahun sebelumnya, digelar Liga Jakarta U17 Piala Gubernur DKI Jakarta.
Kedua event ini diikuti masing-masing 16 tim di mana masing-masing pertandingan level usia ini dibagi menjadi 2 grup yang harus bertanding dengan sistem home and away.
Kedua event ini diharapkan menjadi momentum krusial untuk membangkitkan gairah sepakbola usia muda. Kompetisi ini dipandang bukan sekadar ajang main, melainkan wadah vital dan krusial yang selama ini sulit ditemukan oleh para bibit muda.
Jakarta pun dipasang sebagai barometer nasional. Jika kompetisi di ibu kota sukses, PSSI diharapkan lebih sadar untuk mereplikasi model pembinaan serupa di seluruh Indonesia, bukan hanya berpusat di satu titik.
Peran Strategis SIWO dan Media
Tak hanya menuntut federasi, PWI DKI Jakarta bersama SIWO PWI Jakarta juga berkomitmen mengambil peran aktif. Wartawan olahraga tidak lagi hanya menjadi pelapor hasil pertandingan, tetapi juga menjadi jembatan sponsor dengan menggugah donatur dan pihak swasta untuk ikut mendanai kompetisi usia dini.
Selain itu, para wartawan juga memastikan isu pembinaan usia muda tetap menjadi perhatian utama publik dan stakeholder terkait.
“Tanpa wadah kompetisi, talenta sehebat apa pun akan sia-sia. Sudah saatnya semua pihak, termasuk swasta dan federasi, bersinergi memberikan dukungan nyata bagi masa depan sepakbola Indonesia,” tandas Kesit.***


