JAKARTA, Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026 kembali menjadi panggung penting dalam pembinaan sepak bola usia dini. Dengan format kompetisi yang memberi setiap tim kesempatan bermain hingga 18 sampai 22 pertandingan, ajang ini bukan hanya soal hasil, tetapi tentang proses belajar yang berulang dan berkelanjutan.
Berti Tutuarima, mantan bek kiri timnas Indonesia yang kini aktif sebagai pelatih dan pemandu bakat, melihat kompetisi ini sebagai laboratorium nyata bagi perkembangan pemain muda. Pengalamannya sebagai pemain yang pernah meraih medali perak SEA Games 1979 dan tampil hingga semifinal Asian Games 1986 menjadi landasan kuat dalam membaca potensi pemain usia dini.
Dalam pengamatannya, Berti menilai permainan para pemain masih cenderung sederhana dan belum efektif. Salah satu kebiasaan yang paling terlihat adalah terlalu lama memegang bola. Hal ini membuat alur permainan menjadi lambat dan mudah dibaca lawan.
“Mereka masih ingin pegang bola terlalu lama. Harusnya bisa lebih cepat mengambil keputusan, langsung passing atau mengalirkan bola ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, kecenderungan bermain individual masih cukup dominan. Padahal, di level ini pemain seharusnya mulai memahami pentingnya bermain kolektif. Kecepatan dalam mengambil keputusan dan mengalirkan bola menjadi kunci agar tim bisa menekan pertahanan lawan dengan lebih efektif.
Meski demikian, Berti juga melihat sisi positif. Beberapa tim sudah mulai menunjukkan kerja sama yang baik. Bahkan ada tim dengan postur pemain yang relatif kecil, tetapi mampu memainkan sepak bola yang rapi dan enak ditonton. Ini menunjukkan bahwa pemahaman permainan perlahan mulai terbentuk. 
Dari sisi teknik individu, Berti menilai para pemain sebenarnya sudah memiliki dasar yang cukup. Namun, kebiasaan memegang bola terlalu lama membuat potensi tersebut belum maksimal dalam konteks permainan tim.
Di sinilah pentingnya format kompetisi dengan jumlah pertandingan yang banyak. Berti menekankan bahwa setiap pertandingan adalah kesempatan untuk belajar. Kesalahan yang terjadi hari ini bisa langsung dievaluasi dan diperbaiki di laga berikutnya.
“Dengan pertandingan yang banyak, mereka bisa terus mencoba, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Dari pengulangan itu akan muncul perkembangan,” jelasnya.
Sebagai pemandu bakat di kompetisi ini, Berti tidak hanya melihat kemampuan teknik, tetapi juga cara pemain beradaptasi dan belajar dari kesalahan. Ia menilai pemain yang mampu memperbaiki diri dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh.
Baginya, Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026 adalah fondasi awal. Di sinilah karakter, pemahaman bermain, dan kebiasaan dasar dibentuk. Jika pemain mampu keluar dari kecenderungan individualis dan mulai mengutamakan permainan tim, maka langkah mereka ke jenjang yang lebih tinggi akan terbuka lebih lebar.


