Foto; Candra M. Amin

Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026 Jadi Ruang Tumbuh, Patar Tambunan Tekankan Proses dan Mental

Posted on

JAKARTA, Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026 yang segera kick off dua pekan mendatang di lapangan PSF Pancoran, bukan sekadar ajang kompetisi bagi pemain muda. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi ruang tumbuh yang penting dalam proses pembinaan, terutama dengan format pertandingan yang memberi kesempatan setiap tim bermain hingga 18 sampai 22 kali sepanjang musim.

Bagi Patar Tambunan yang pernah menjadi bagian dari sejarah emas sepak bola Indonesia di SEA Games 1987, yang kini terlibat sebagai pemandu bakat, banyaknya pertandingan ini menjadi nilai lebih. Ia melihat para pemain punya ruang yang cukup untuk belajar, mencoba, dan berkembang dari satu laga ke laga berikutnya.

Dari pengamatannya, kemampuan individu pemain memang masih berada di level rata-rata. Belum banyak yang benar-benar menonjol. Namun di sisi lain, ada perkembangan yang mulai terasa, terutama dalam permainan tim. Beberapa tim sudah menunjukkan kerja sama yang cukup rapi, baik saat menyerang, bertahan, maupun saat melakukan transisi.

“Secara tim, sudah mulai terbentuk. Mereka juga mulai paham bagaimana membangun serangan dari belakang,” ujarnya.

Patar juga melihat adanya perbedaan antara tim yang pemainnya tinggal di asrama dengan yang tidak. Tim berbasis asrama cenderung lebih kompak karena intensitas kebersamaan mereka lebih tinggi. Hal itu berpengaruh pada kekompakan permainan dan juga kondisi fisik.

Meski begitu, bukan berarti tim non-asrama tertinggal sepenuhnya. Tetap ada beberapa pemain yang menonjol secara individu, terutama dalam hal teknik dasar seperti kontrol bola, passing, dan kecepatan. Bahkan untuk urusan speed, menurut Patar, rata-rata pemain sudah memiliki kemampuan yang cukup baik.

Yang menjadi perhatian utamanya justru ada pada aspek mental. Ia menilai, di usia ini, perkembangan pemain sangat ditentukan oleh sikap mereka terhadap proses. Tidak sedikit pemain muda yang cepat merasa puas, lalu kehilangan motivasi untuk terus berkembang.

“Perjalanan mereka masih panjang. Ada yang sekarang terlihat biasa saja, tapi bisa berkembang pesat beberapa tahun ke depan. Semua tergantung bagaimana mereka menjaga semangat latihan,” kata Patar.

Karena itu, ia menekankan bahwa kompetisi ini sebaiknya dilihat sebagai bagian dari proses, bukan sekadar hasil akhir. Setiap pertandingan adalah kesempatan belajar, bukan hanya untuk menang atau kalah.

Dengan jadwal pertandingan rutin, para pemain diharapkan bisa memaksimalkan pengalaman bertanding untuk mengasah kemampuan yang sebelumnya mereka dapat saat latihan. Di sinilah pentingnya peran kompetisi sebagai jembatan antara latihan dan permainan sesungguhnya.

Sebagai pemandu bakat, Patar tidak hanya mencari pemain yang unggul secara teknik. Ia juga memperhatikan karakter, disiplin, dan kemauan untuk terus belajar. Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026, dalam pandangannya, adalah titik awal penting dalam perjalanan panjang pembinaan sepak bola Indonesia menuju level yang lebih kompetitif di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *