Legenda sepak bola nasional Berti Tutuarima saat diwawancarai tim Avatara usai satu pertandingan Liga Soeratin U-15 Jakarta. Foto: Wempie

Berti Tutuarima Soroti Kebiasaan Dribel Berlebihan Pemain Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026

Posted on

JAKARTA, Bagi Berti Tutuarima, pertandingan sepak bola usia muda tidak semata-mata diukur dari hasil akhir. Sebagai mantan kapten Timnas Indonesia yang kini bertugas sebagai pemandu bakat (talent scouting) di Liga Soeratin U-15 Jakarta 2026, ia lebih tertarik melihat bagaimana pemain memahami permainan, mengambil keputusan, dan menerapkan materi latihan dalam situasi pertandingan.

Pandangan itu kembali muncul saat mengamati laga Maesa Pararaiders menghadapi MC Utama di Lapangan PSF Pancoran, Sabtu (11/7). Menurut Berti, Maesa memang tampil lebih baik dari lawannya. Organisasi permainan sudah mulai terbentuk dan para pemain mampu menguasai jalannya pertandingan. Namun, di balik kemenangan tersebut masih ada sejumlah catatan penting yang harus segera diperbaiki apabila tim ingin berkembang ke level yang lebih tinggi.

Salah satu kebiasaan yang paling disorot adalah kecenderungan pemain terlalu lama menguasai bola. Berti menilai banyak pemain masih mengandalkan kemampuan individu dengan menggiring bola atau melakukan gocekan, padahal situasi permainan sebenarnya menuntut keputusan yang lebih sederhana dan efektif.

“Sepak bola sekarang menuntut umpan cepat. Kalau pemain terlalu lama membawa bola, apalagi di lapangan yang ukurannya tidak terlalu besar, ruang gerak menjadi sempit dan lawan lebih mudah menutup pergerakan,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan semata-mata muncul saat pertandingan, tetapi terbentuk sejak sesi latihan. Pemain yang terbiasa menundukkan kepala ketika menggiring bola akan kesulitan membaca posisi rekan setim yang sebenarnya berada dalam ruang kosong.

Akibatnya, peluang membangun serangan cepat sering terbuang. Padahal, dalam banyak situasi, bola seharusnya sudah dapat dialirkan kepada rekan yang berdiri tanpa kawalan.

Berti menekankan bahwa proses pembinaan usia muda harus lebih banyak membangun kebiasaan mengambil keputusan yang tepat dibanding sekadar mengasah kemampuan menggiring bola. Teknik individu memang penting, tetapi harus diimbangi dengan pemahaman bermain secara kolektif.

Ia juga mengingatkan bahwa dominasi permainan saat menghadapi lawan yang kualitasnya berada di bawah belum tentu menjadi ukuran sesungguhnya. Menurutnya, tantangan akan berbeda ketika berhadapan dengan tim yang memiliki kualitas setara atau bahkan lebih baik.

Karena itu, ia berharap para pelatih mulai membiasakan pemain bermain dengan sentuhan yang lebih sedikit, mempercepat sirkulasi bola, serta berani melepaskan tembakan ketika menghadapi pertahanan rapat. Semua kebiasaan tersebut, kata Berti, tidak bisa muncul secara instan saat pertandingan, melainkan harus dibangun secara konsisten dalam setiap sesi latihan.

“Kalau ingin mengubah cara bermain, prosesnya harus dimulai dari latihan. Di pertandingan pemain hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kebiasaannya,” jelasnya.

Dalam pertandingan tersebut, Maesa Pararaiders akhirnya meraih kemenangan 3-1 atas MC Utama. Tiga gol Maesa dicetak Kamil Azizi Saputro pada menit ke-13, Kaffa Al Maliki Siswanto menit ke-47, dan Gazendra Abirama Putra menit ke-53. MC Utama memperkecil ketertinggalan melalui Muhammad Farras Sakhiy pada menit ke-58. Meski menang cukup meyakinkan, Berti menilai hasil itu belum sepenuhnya mencerminkan kualitas permainan yang diharapkan dalam proses pembinaan pemain usia muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *