Aksi pemain PSF U-15 (kuning hijau) dalam salah satu pertandingan Liga Jakarta. Foto: Tjandra M. Amin

Cerita Ibnu Grahan Tentang Menyeimbangkan Target Prestasi dan Harapan Orang Tua Pemain di PSF Grup

Posted on

JAKARTA — Mengelola akademi sepak bola usia muda bukan sekadar menyiapkan pemain untuk bertanding dan mengejar kemenangan. Ada tanggung jawab lebih besar yang harus dijalankan, mulai dari menjaga kualitas pembinaan, menyusun program kompetisi, hingga menyelaraskan harapan orang tua dengan target manajemen. Tugas itulah yang diemban Ibnu Grahan sebagai Direktur Teknik PSF Group, yang menaungi sejumlah akademi sepak bola di Jakarta dan daerah.

Dengan lisensi kepelatihan A dan pengalaman panjang di dunia sepak bola, Ibnu semula membayangkan akan menghabiskan kariernya sebagai pelatih di pinggir lapangan. Namun, ketika bergabung dengan PSF Group milik pengusaha Gde Widiade, tanggung jawabnya berkembang. Ia tidak hanya mengurusi klub, tetapi juga mengawasi pengelolaan akademi.

Cakupan tugas tersebut cukup luas. Ibnu harus memastikan arah pembinaan berjalan selaras di berbagai unit, mulai dari klub yang berkompetisi di Liga 2, Liga 3, dan Liga 4, hingga akademi di Jakarta, Bandung, dan Cilacap. Pekerjaan itu menuntut kemampuan manajerial sekaligus pemahaman tentang kebutuhan pemain muda.

Dalam menjalankan tugasnya, Ibnu mengaku banyak belajar dari Gde Widiade, terutama mengenai cara mengelola sepak bola sebagai sebuah organisasi profesional. Baginya, akademi tidak cukup hanya memiliki pelatih yang kompeten. Program latihan, kalender pertandingan, dan tata kelola juga harus dirancang dengan jelas.

Tantangan muncul ketika kebijakan manajemen tidak selalu sejalan dengan keinginan pelatih maupun orang tua. Menurut Ibnu, perbedaan persepsi menjadi salah satu persoalan yang paling membutuhkan perhatian.

Ia mengingatkan bahwa akademi PSF berbeda dari sekolah sepak bola (SSB) yang umumnya mengandalkan swadaya orang tua. Program akademi berada di bawah naungan perusahaan, dengan regulasi dan kalender kegiatan yang telah disusun untuk satu tahun.

Karena itu, keinginan mengikuti berbagai turnamen di luar program tidak bisa selalu dipenuhi. Kalender pertandingan harus disesuaikan agar tidak berbenturan dengan kompetisi utama yang telah ditetapkan.

Ibnu Grahan, Direktur teknis PSF FA

Di Liga Jakarta 2026, dua tim binaan PSF Group, Batavia FC dan PSF FA, berpartisipasi dalam kompetisi kelompok usia U-17 dan U-15. Ibnu menempatkan kompetisi berdurasi panjang sebagai bagian penting dari program pembinaan, sedangkan turnamen singkat dapat dimanfaatkan untuk persiapan.

Menurutnya, pemain membutuhkan kesempatan bertanding yang cukup agar materi latihan dapat diterapkan dalam situasi pertandingan. Namun, kesempatan itu harus ditopang latihan yang konsisten. Target prestasi, dalam pandangannya, tetap diperlukan sebagai ukuran keseriusan tim menjalankan program.

Ibnu tidak menampik besarnya tanggung jawab ketika sebuah tim mengalami penurunan prestasi. Ia pernah merasa gagal ketika performa tim akademi U-17 merosot akibat pergantian pelatih yang terlalu sering. Situasi itu menjadi pengingat bahwa keputusan manajerial dapat berdampak langsung terhadap perkembangan pemain.

Di sisi lain, ia memahami harapan orang tua yang ingin anak-anak mereka mendapatkan kesempatan bermain dan menunjukkan kemajuan setelah mengikuti program akademi. Harapan tersebut wajar, tetapi perlu ditempatkan dalam kerangka pembinaan jangka panjang, bukan semata-mata hasil pertandingan.

Bagi Ibnu, menjaga keseimbangan antara tuntutan prestasi, kebutuhan pemain, dan harapan orang tua merupakan bagian penting dari pekerjaannya. Partisipasi Batavia FC dan PSF FA di Liga Jakarta 2026 menjadi salah satu ruang untuk menguji pelaksanaan program tersebut.

Ia ingin para pemain tidak hanya memperoleh hasil yang baik, tetapi juga berkembang melalui latihan terarah, pertandingan yang cukup, dan evaluasi berkelanjutan. Sebab, keberhasilan akademi pada akhirnya tidak hanya diukur dari trofi, melainkan juga dari kualitas proses yang mengantarkan pemain menuju jenjang sepak bola berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *