JAKARTA — Liga Jakarta 2026 terus bergulir setiap pekan. Kompetisi sepak bola usia muda yang diposisikan sebagai laboratorium pembinaan ini menuntut ketahanan luar biasa dari para peserta: setiap tim memainkan 14 pertandingan dalam dua putaran, , belum termasuk putaran kedua yang menerapkan sistem gugur. Jumlah pertandingan sebanyak itu menjadi tantangan sesungguhya bagi manajemen SSB tersebut dalam mengelola sekolah binaan mereka.
Di kategori U-17 dan Liga Soeratin U-15, tiga Sekolah Sepak Bola (SSB) menjadi sorotan. Bintang Ragunan turun di dua kategori sekaligus, sementara BTC dan Satria Sanggeni bersaing di U-17. Hingga putaran kedua, BTC dan Satria Sanggeni mampu bertahan di papan atas klasemen meski berhadapan dengan tim-tim akademi yang sumber dayanya lebih mumpuni.
Manajer Bintang Ragunan, Tengku Khairul Wisal, menyebut kualitas penyelenggaraan sebagai alasan utama timnya bergabung. “Kami sangat antusias mengikutsertakan anak didik di kompetisi yang digelar dengan serius, lapangannya strategis dan bagus, serta biaya terjangkau,” ujarnya.
Alasan serupa disampaikan Manajer BTC, Risat Sucahyo. Menurutnya, Liga Jakarta adalah satu dari sedikit kompetisi yang menempatkan pembinaan usia muda di atas faktor komersial. “Biaya terjangkau, tempat pertandingan nyaman dan mudah diakses, serta peserta yang sudah punya nama,” katanya.
Sementara Manajer Satria Sanggeni, Edwar Martinus, menegaskan tujuan utamanya adalah menambah jam terbang. “Kami ingin mencoba tantangan melawan tim SSB di luar Tangerang Selatan,” ujarnya.
Pembinaan di Atas Trofi
Ketiga manajer sepakat bahwa target utama bukanlah gelar juara. Tengku Khairul Wisal menyatakan pelatih memiliki target utama dan sekunder. “Target utama adalah memastikan semua siswa memiliki progres dalam teknik, skill, dan fisik sesuai usia, serta rasa gembira bermain sepakbola. Sepakbola tidak boleh menjadi beban,” tegasnya.
Risat Sucahyo menambahkan, pembentukan karakter menjadi prioritas BTC. “Anak didik belajar character building, tekanan mental, dan sportifitas—respect, teamwork, honesty, responsibility—hal yang tidak dipelajari dalam latihan,” jelasnya. BTC mencatat sejumlah siswa didiknya telah menembus level nasional dan klub Liga Nasional Indonesia.
Edwar Martinus menyebut pembinaan Satria Sanggeni diarahkan pada kegiatan positif dan jalur karier sepak bola yang lebih tinggi. “Kami ingin mengarahkan mereka ke jenjang yang lebih lanjut,” ujarnya.
Waktu Latihan Jadi Tantangan Terbesar
Tantangan terbesar yang dihadapi ketiga manajer ternyata sama: waktu latihan. Tengku Khairul Wisal menyebut jadwal latihan anak didik sangat sempit karena bentrok dengan jam belajar dan ekstrakurikuler. “Cukup sulit membentuk tim yang kuat dalam menghadapi setiap pertandingan, dan ini juga dirasakan SSB lain,” akunya.
Edwar Martinus merasakan hal serupa. “Di usia 16-17 tahun, banyak kegiatan di luar sepak bola, sehingga jadwal latihan tidak pernah lengkap,” katanya.
Risat Sucahyo menyebut BTC menerapkan prinsip “fleksibel tapi tegas” dalam menyelaraskan kepentingan tim dan siswa didik. “Agar keduanya berjalan bersama tanpa ada yang merasa dikorbankan,” ujarnya.
Soal pendanaan, BTC mengambil porsi terbesar pembiayaan melalui manajemen dan pengurus, dengan kontribusi siswa didik dalam batas wajar serta donasi orang tua yang mampu. Bintang Ragunan mengandalkan komitmen dukungan dana orang tua yang disepakati sebelum event.
Mekanisme Berbeda Pemilihan Pelatih
Satria Sanggeni tidak memiliki mekanisme khusus dalam pemilihan pelatih. “Pelatih saat ini sudah bersama pemain lebih dari dua tahun, dan tidak ada target yang dibebankan,” kata Edwar Martinus.
BTC menekankan integritas dan visi yang sama dengan manajemen sebagai faktor terpenting, di samping sertifikasi kepelatihan. Bintang Ragunan membebankan target progres teknik, skill, fisik, dan kegembiraan bermain sebagai target utama—bukan semata hasil pertandingan.
Komitmen dan Aspirasi Orang Tua
Bintang Ragunan mengikat orang tua dengan komitmen sebelum event: mendukung sampai selesai, mendukung pendanaan, mematuhi aturan panitia, dan tidak bersikap negatif. “Pelatih wajib memainkan pemain yang masuk line up dan terdaftar meski kualitasnya belum mumpuni. Tidak mengapa kalah, yang penting semua menjalankan peran dengan baik,” ujar Tengku Khairul Wisal.
BTC memilih komunikasi terbuka, bahkan mewajibkan orang tua menyaksikan anaknya bertanding. “Kami ajak diskusi orang tua soal konsekuensi jika siswa yang kurang dipaksakan terus bermain. Jika ada yang tidak paham, kami persilakan memilih yang terbaik bagi anaknya dan kami tetap mendukung,” kata Risat Sucahyo.
Dengan kompetisi yang masih berlangsung setiap pekan hingga akhir tahun, Liga Jakarta 2026 terus menjadi pembuktian bahwa pembinaan serius—bukan semata sumber daya besar—masih memiliki tempat di sepak bola usia muda Indonesia.


